Sunday, 22 September 2013

LAPORAN EKSPERIMEN TRANSPOR PASIF


TUGAS BIOLOGI ( TS )
LAPORAN EKSPERIMEN TRANSPOR PASIF



Oleh :
Nama         : Agus Tri Setyorini
No Absen   : 03
Kelas         : XI IPA 5

SMA NEGERI 4 SURAKARTA
TAHUN PELAJARAN 2013 / 2014



Transpor Pasif

A.    Tujuan
Mengamati proses osmosis pada sel.

B.     Alat dan Bahan


1.      Gelas beker 250 mL dua buah
2.      Pisau
3.      Spidol
4.      Akuades
5.      Larutan garam 10%
6.      Irisan apel



C.    Dasar Teori
Transportasi sel dibagi menjadi dua yaitu transportasi aktif dan transportasi pasif. Transportasi aktif yaitu transportasi lintas membran menggunakan energi yang berupa ATP. Transportasi ini memerlukan energi karena transportasi ini melawan gradien konsentrasi. Sedangkan transportasi pasif tidak membutuhkan energi karena hanya menuruni gradien konsentrasi.
Transportasi pasif dibedakan menjadi tiga yaitu difusi, difusi berfasilitasi dan osmosis. Difusi yaitu transportasi zat dari larutan konsentrasi tinggi (hipertonis) ke larutan konsentrasi rendah (hipotonis). Difusi berfasilitasi yaitu proses difusi dengan bantuan protein pembawa untuk memindahkan zat dari satu sisi membran ke membran lain. Sedangkan osmosis yaitu proses perpindahan air dari daerah yang berkonsentrasi rendah (hipotonik) ke daerah yang berkonsentrasi tinggi (hipertonik) melalui membran semipermiabel. Membran semipermiabel adalah selaput pemisah yang hanya bisa ditembus oleh air dan zat tertentu yang larut di dalamnya. Secara umum, membran tersebut permiabel terhadap air dan zat-zat kecil dan tidak bermuatan. Dalam sistem osmosis, dikenal larutan hipertonik (larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut tinggi), larutan hipotonik (larutan dengan konsentrasi terlarut rendah), dan larutan isotonik (dua larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut sama). Jika terdapat dua larutan yang tidak sama konsentrasinya, maka molekul air melewati membran sampai kedua larutan seimbang. Proses osmosis akan berhenti ketika kedua larutan mempunyai konsentrasi yang sama atau disebut isotonik.

D.    Cara Kerja
1.   Isi gelas beker masing-masing dengan akuades dan larutan garam, kemudian beri tanda masing-masing gelas beker tersebut.
2.     Siapkan empat irisan apel. Catat bentuknya.
3.   Masukkan dua irisan apel ke dalam gelas beker yang berisi akuades dan dua irisan apel lainnya ke dalam gelas beker yang berisi larutan garam.
4.      Diamkan selama semalam.
5.      Keesokan harinya, ambil lalu amati irisan apel tersebut. Catat perubahan bentuknya.
6.      Masukkan data hasil eksperimen ke dalam tabel berikut.

Irisan apel
Sebelum
Sesudah


Larutan garam
Volume awal : 100 ml
Volume akhir : 102 ml
Massa : 1,4 gr




 
 Massa : 2,2 gr

Massa : 1,1 gr




 
 Massa : 2,0 gr



Akuades
Volume awal : 60 ml
Volume akhir : 58 ml
Massa : 1,6 gr




 
 Massa : 0,9 gr
Massa : 1,8gr




 
 Massa : 1,2 gr

E.     Pembahasan
a)      Pertanyaan
1.    Irisan apel yang manakah yang kehilangan air dan irisan apel yang manakah yang dimasuki air?
2.     Pada gelas beker yang berisi akuades, dimanakah konsentrasi air yang lebih tinggi? Di dalam atau di luar irisan apel? Jelaskan pendapatmu.
3.   Pada gelas beker yang berisi larutan garam, dimanakah konsentrasi air yang lebih tinggi? Di dalam atau di luar irisan apel? Jelaskan pendapatmu.

b)     Jawaban
1.    Irisan apel yang kehilangan air adalah irisan apel yang didiamkan di dalam larutan akuades. Irisan apel yang di masuki air adalah irisan apel yang didiamkan di dalam larutan garam.

2.   Pada gelas beker yang berisi akuades, konsentrasi air yang lebih tinggi berada di luar irisan apel. Sehingga, air dari larutan akuades masuk ke dalam irisan apel. Ini terbukti dengan massa irisan apel yang terdapat di dalam larutan akuades bertambah dan volume larutan akuades berkurang.
Sel tumbuhan bila ditempatkan pada lingkungan hipotonik, menyebabkan masuknya larutan menuju ke dalam sel. Sel tumbuhan akan terus mengalami pembengkakan sampai selulosa tidak dapat direntangkan lagi akan tetapi sel akan mempertahankan bentuknya sehingga sel tersebut tidak tidak pecah. Keadaan ini disebut turgid.

3.    Pada gelas beker yang berisi larutan garam, konsentrasi air yang lebih tinggi berada di dalam irisan apel. Sehingga, air dari larutan garam masuk ke dalam irisan apel. Ini terbukti dengan massa irisan apel yang terdapat di dalam larutan garam berkurang dan volume larutan garam bertambah.
Sel tumbuhan jika ditempatkan pada lingkungan hipertonik, menyebabkan keluarnya air dari vakuola. Sehingga sitoplasma mengkerut dan membran plasma terlepas dari dinding sel. Keadan ini disebut plasmolisis.

F.     Kesimpulan
1.  Sel-sel tumbuhan memiliki dinding selulosa yang keras dan elastis sehingga dapat membatasi volume sel serta mempertahankan sel agar tidak pecah.

2.   Sel tumbuhan yang dimasukkan ke dalam larutan akuades akan terus membengkak sampai selulosa tidak dapat direntangkan lagi, namun sel tersebut tidak pecah disebut turgid.

3.    Sitoplasma pada sel tersebut mengkerut dan membran plasma terlepas dari dinding sel atau disebut plasmolisis.

4.    Dari data yang didapat, dapat  disimpulkan bahwa apel yang mengalami penambahan berat ini terjadi karena larutan bersifat hipotonis terhadap apel. Sedangkan, jika terjadi pengurangan berat karena larutan bersifat hipertonis terhadap apel.

5. Dari pembahasan, dapat ditarik kesimpulan bahwasannya larutan yang mempunyai konsentrasi lebih tinggi akan naik. Hal ini berarti bahwa pada osmosis terjadi dari konsentrasi yang lebih rendah ke konsentrasi yang lebih tinggi.



















Mengetahui,
Guru Mata Pelajaran Biologi



Tutut Sumarjiyana, S. Pd.
NIP.

Surakarta, 16 September 2013
Praktikan



Agus Tri Setyorini

0 comments:

Post a Comment