TUGAS
BIOLOGI ( TS )
LAPORAN
EKSPERIMEN TRANSPOR PASIF
Oleh
:
Nama : Agus Tri Setyorini
No Absen : 03
Kelas : XI IPA 5
SMA
NEGERI 4 SURAKARTA
TAHUN
PELAJARAN 2013 / 2014
Transpor
Pasif
A. Tujuan
Mengamati proses
osmosis pada sel.
B. Alat dan Bahan
1. Gelas
beker 250 mL dua buah
2. Pisau
3. Spidol
4. Akuades
5. Larutan
garam 10%
6. Irisan
apel
C. Dasar Teori
Transportasi
sel dibagi menjadi dua yaitu transportasi aktif dan transportasi pasif.
Transportasi aktif yaitu transportasi lintas membran menggunakan energi yang
berupa ATP. Transportasi ini memerlukan energi karena transportasi ini melawan
gradien konsentrasi. Sedangkan transportasi pasif tidak membutuhkan energi
karena hanya menuruni gradien konsentrasi.
Transportasi
pasif dibedakan menjadi tiga yaitu difusi, difusi berfasilitasi dan osmosis.
Difusi yaitu transportasi zat dari larutan konsentrasi tinggi (hipertonis) ke
larutan konsentrasi rendah (hipotonis). Difusi berfasilitasi yaitu proses
difusi dengan bantuan protein pembawa untuk memindahkan zat dari satu sisi
membran ke membran lain. Sedangkan osmosis yaitu proses perpindahan air dari
daerah yang berkonsentrasi rendah (hipotonik) ke daerah yang berkonsentrasi
tinggi (hipertonik) melalui membran semipermiabel. Membran semipermiabel adalah
selaput pemisah yang hanya bisa ditembus oleh air dan zat tertentu yang larut
di dalamnya. Secara umum, membran tersebut permiabel terhadap air dan zat-zat
kecil dan tidak bermuatan. Dalam
sistem osmosis, dikenal larutan hipertonik (larutan yang mempunyai konsentrasi
terlarut tinggi), larutan hipotonik (larutan dengan konsentrasi terlarut
rendah), dan larutan isotonik (dua larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut
sama). Jika terdapat dua larutan yang tidak sama konsentrasinya, maka molekul
air melewati membran sampai kedua larutan seimbang. Proses osmosis akan
berhenti ketika kedua larutan mempunyai konsentrasi yang sama atau disebut
isotonik.
D. Cara Kerja
1. Isi
gelas beker masing-masing dengan akuades dan larutan garam, kemudian beri tanda
masing-masing gelas beker tersebut.
2. Siapkan
empat irisan apel. Catat bentuknya.
3. Masukkan
dua irisan apel ke dalam gelas beker yang berisi akuades dan dua irisan apel
lainnya ke dalam gelas beker yang berisi larutan garam.
4. Diamkan
selama semalam.
5. Keesokan
harinya, ambil lalu amati irisan apel tersebut. Catat perubahan bentuknya.
6. Masukkan
data hasil eksperimen ke dalam tabel berikut.
Irisan apel
|
Sebelum
|
Sesudah
|
||||||
Larutan garam
Volume awal : 100 ml
Volume akhir : 102 ml
|
![]()
Massa : 1,4 gr
Massa : 2,2 gr
|
![]()
Massa : 1,1 gr
Massa : 2,0 gr
|
||||||
Akuades
Volume awal : 60 ml
Volume akhir : 58 ml
|
![]()
Massa
: 1,6 gr
Massa : 0,9 gr
|
![]()
Massa
: 1,8gr
Massa : 1,2 gr
|
E. Pembahasan
a)
Pertanyaan
1. Irisan
apel yang manakah yang kehilangan air dan irisan apel yang manakah yang
dimasuki air?
2. Pada
gelas beker yang berisi akuades, dimanakah konsentrasi air yang lebih tinggi?
Di dalam atau di luar irisan apel? Jelaskan pendapatmu.
3. Pada
gelas beker yang berisi larutan garam, dimanakah konsentrasi air yang lebih
tinggi? Di dalam atau di luar irisan apel? Jelaskan pendapatmu.
b)
Jawaban
1. Irisan
apel yang kehilangan air adalah irisan apel yang didiamkan di dalam larutan
akuades. Irisan apel yang di masuki air adalah irisan apel yang didiamkan di
dalam larutan garam.
2. Pada
gelas beker yang berisi akuades, konsentrasi air yang lebih tinggi berada di luar
irisan apel. Sehingga, air dari larutan akuades masuk ke dalam irisan apel. Ini
terbukti dengan massa irisan apel yang terdapat di dalam larutan akuades
bertambah dan volume larutan akuades berkurang.
Sel tumbuhan bila ditempatkan pada lingkungan
hipotonik, menyebabkan
masuknya larutan menuju ke dalam sel. Sel tumbuhan akan terus mengalami pembengkakan sampai selulosa
tidak dapat direntangkan lagi akan tetapi sel akan mempertahankan bentuknya sehingga
sel tersebut tidak tidak pecah. Keadaan ini disebut turgid.
3. Pada
gelas beker yang berisi larutan garam, konsentrasi air yang lebih tinggi berada
di dalam irisan apel. Sehingga, air dari larutan garam masuk ke dalam irisan
apel. Ini terbukti dengan massa irisan apel yang terdapat di dalam larutan
garam berkurang dan volume larutan garam bertambah.
Sel tumbuhan jika ditempatkan pada
lingkungan hipertonik, menyebabkan keluarnya air dari vakuola. Sehingga
sitoplasma mengkerut dan membran plasma terlepas dari dinding sel. Keadan ini
disebut plasmolisis.
F. Kesimpulan
1. Sel-sel
tumbuhan memiliki dinding selulosa yang keras dan elastis sehingga dapat
membatasi volume sel serta mempertahankan sel agar tidak pecah.
2. Sel
tumbuhan yang dimasukkan ke dalam larutan akuades akan terus membengkak sampai
selulosa tidak dapat direntangkan lagi, namun sel tersebut tidak pecah disebut turgid.
3. Sitoplasma pada sel tersebut mengkerut dan
membran plasma terlepas dari dinding sel atau disebut plasmolisis.
4. Dari
data yang didapat, dapat disimpulkan
bahwa apel yang mengalami penambahan berat ini terjadi karena larutan bersifat
hipotonis terhadap apel. Sedangkan, jika terjadi pengurangan berat karena
larutan bersifat hipertonis terhadap apel.
5. Dari
pembahasan, dapat ditarik kesimpulan bahwasannya larutan yang mempunyai
konsentrasi lebih tinggi akan naik. Hal ini berarti bahwa pada osmosis terjadi
dari konsentrasi yang lebih rendah ke konsentrasi yang lebih tinggi.
Mengetahui,
Guru Mata Pelajaran Biologi
Tutut Sumarjiyana, S. Pd.
NIP.
Surakarta, 16 September 2013
Praktikan
Agus Tri Setyorini














0 comments:
Post a Comment